Universitas Islam Sultan Agung kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus World Class Islamic University yang humanis dan inklusif melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Designing Inclusive Mathematics Learning” dalam rangka menyambut Hari Autis.

Kegiatan ini menghadirkan ruang dialog yang inspiratif dengan mengangkat perspektif difabel netra, wicara, rungu, dan daksa dalam rekayasa pembelajaran abad ke-21. Acara yang dilaksanakan secara daring ini mempertemukan akademisi, praktisi, serta penyandang disabilitas dalam satu forum kolaboratif yang setara dan bermakna.

FGD ini dipandu oleh Dr. Nila Ubaidah selaku Kaprodi Magister Pendidikan Matematika UNISSULA, yang juga menjadi motor penggerak inovasi pembelajaran inklusif di lingkungan kampus. Dalam forum tersebut, hadir pula narasumber inspiratif, yaitu Satria Bayu Pamungkas (difabel daksa) dan Muhammad Aenul Yakin (difabel netra), yang membagikan pengalaman autentik mereka dalam menghadapi tantangan aksesibilitas pendidikan.

Dalam sambutannya, Dekan FKIP UNISSULA, Dr. M. Afandi, menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar wacana, melainkan sebuah tanggung jawab moral dan akademik. Beliau menyampaikan bahwa kampus harus menjadi pelopor dalam menghadirkan sistem pembelajaran yang adaptif, adil, dan menghargai keberagaman potensi mahasiswa.

“Inklusivitas adalah jantung dari pendidikan masa depan. Kita tidak boleh meninggalkan siapa pun, termasuk dalam pembelajaran matematika yang sering dianggap sulit diakses oleh sebagian kelompok difabel,” ungkap beliau.

Senada dengan itu, Dr. Nila Ubaidah menekankan pentingnya integrasi teknologi, empati pedagogis, serta desain pembelajaran yang fleksibel dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna bagi semua mahasiswa.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai gagasan inovatif, seperti:

  • Penggunaan media taktil dan audio untuk mahasiswa difabel netra
  • Integrasi bahasa isyarat dalam pembelajaran matematika
  • Desain tugas berbasis diferensiasi kemampuan
  • Pemanfaatan AI untuk personalisasi pembelajaran inklusif

Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga ruang refleksi bersama bahwa pendidikan matematika dapat dan harus diakses oleh semua tanpa diskriminasi.

Melalui FGD ini, UNISSULA semakin menegaskan posisinya sebagai kampus yang menjunjung tinggi nilai BIRRUL WALIDAIN dan kemanusiaan, serta berkomitmen mencetak pendidik matematika yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga peka terhadap keberagaman dan keadilan sosial.

Mari bersama membangun pendidikan matematika yang inklusif, adaptif, dan berkeadilan karena setiap individu berhak untuk belajar dan berkembang tanpa batas.